Oleh: Anna Mariana (Ruang Arsip & Sejarah Wanita / RUAS)
Di tengah arus sejarah yang sering kali ditulis dari sudut pandang dominan yang patriarkis dan maskulin, Ruang Arsip & Sejarah Perempuan (RUAS) hadir sebagai ruang alternatif yang menghidupkan arsip sebagai gerakan perempuan. Bukan sekadar tempat penyimpanan dokumen, RUAS adalah laboratorium pengetahuan, ruang refleksi, dan medan perjuangan. Di sini, arsip menjadi alat untuk membaca ulang masa lalu, memahami masa kini, dan merancang masa depan yang lebih adil dan setara.
Arsip sebagai Gerakan: Menolak Lupa, Menyusun Ulang Narasi
RUAS memandang arsip sebagai bagian dari gerakan sosial. Ia bukan benda mati, melainkan jejak hidup yang menyimpan pengalaman, strategi, dan suara perempuan yang selama ini dipinggirkan. Dalam konteks ini, pengarsipan bukan hanya soal teknik dokumentasi, tetapi juga tindakan politis dan etis. Mengarsip berarti menolak lupa, menolak penghapusan, dan menolak dominasi narasi tunggal. Narasi tunggal versi negara ini dapat dijumpai di buku-buku teks pengajaran sejarah yang bersifat maskulin dan patriarkis, berbagai diorama dalam museum-museum negara, hingga obsesi negara yang ingin merevisi penulisan kembali sejarah nasional. Penulisan kembali sejarah nasional yang dengan sangat sadar menghilangkan peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara pada masyarakat seperti pembunuhan massal 1965-1966, peristiwa penembakan misterius (petrus), hingga pemerkosaan massal etnis Tionghoa pada peristiwa Mei 1998. Maka, RUAS berupaya untuk mengumpulkan arsip, menyusun narasi serta menyuarakan narasi alternatif dari versi negara yang membungkam sejarah trauma bangsa tersebut.

Gambar 1. Siklus pengelolaan ARSIP RUAS
Ruas memahami, kerja-kerja tersebut membutuhkan nafas yang panjang, sehingga diperlukan perangkat metode maupun metodologis yang andal untuk mendukung kerja tersebut. Siklus pengelolaan arsip di RUAS mencoba memberikan alur itu. Kerangka kerja dimulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis, hingga diseminasi. Setiap tahap dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan reflektif. Arsip yang dikumpulkan tidak hanya berasal dari institusi formal, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari perempuan: foto-foto keluarga, surat pribadi, rekaman suara, majalah komunitas, hingga koran digital. Semua ini dibaca sebagai sumber sejarah yang sah dan penting.

Gambar 2. Sebagian koleksi Arsip RUAS

Gambar 3. Contoh arsip majalah yang sudah didigitalisasi
Dalam praktiknya, RUAS menggali berbagai jenis arsip yang merekam jejak perempuan dari berbagai latar belakang. Beberapa jenis arsip yang menjadi fokus antara lain:
- Arsip foto, yang menangkap momen-momen penting dalam kehidupan perempuan, baik dalam ruang domestik maupun publik.
- Arsip suara, berupa sejarah lisan, wawancara, dan testimoni yang merekam pengalaman perempuan secara langsung dan intim.
- Dokumen pribadi dan organisasi, seperti surat, catatan harian, arsip internal komunitas, dan laporan kegiatan.
- Majalah organisasi perempuan, yang menjadi cermin perkembangan pemikiran dan gerakan perempuan dari masa ke masa.
- Koran digital, sebagai sumber kontekstual yang memperlihatkan bagaimana perempuan diberitakan atau diabaikan dalam media arus utama.
RUAS tidak hanya mengumpulkan arsip, tetapi juga mengkritisi cara arsip diproduksi dan digunakan. Siapa yang berhak mengarsip? Siapa yang menentukan nilai arsip? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian dari refleksi metodologis yang terus dilakukan.

Gambar 4. Contoh Arsip majalah Api Kartini yang dihilangkan dalam narasi sejarah
Penelitian dan Produksi Pengetahuan: Dari Arsip Menuju Aksi
RUAS mengembangkan pustaka perempuan sebagai bagian dari upaya membangun epistemologi alternatif. Pustaka ini tidak hanya berisi buku-buku, tetapi juga gagasan, pengalaman, dan refleksi yang lahir dari tubuh dan kehidupan perempuan. Beberapa tema utama dalam pustaka RUAS antara lain:
- Filsafat dari perspektif perempuan, yang menantang dominasi pemikiran maskulin dan membuka ruang bagi pemikiran yang berakar pada pengalaman perempuan.
- Sejarah perempuan, yang menyoroti peran dan kontribusi perempuan dalam berbagai konteks sosial-politik, dari lokal hingga global.
- Metodologi dan teori feminis, termasuk pendekatan dekolonial yang membongkar warisan kolonialisme dalam produksi pengetahuan.
- Sosiologi dan kajian gender, yang mengkaji struktur sosial dan relasi kuasa yang membentuk pengalaman perempuan.
- Kajian kekerasan dan seksualitas, sebagai upaya memahami dan melawan kekerasan berbasis gender.
- Kajian Islam dan gender, yang membuka ruang tafsir progresif terhadap teks dan tradisi Islam, dengan pendekatan yang kontekstual dan empatik.
Pustaka ini menjadi sumber belajar dan refleksi bagi siapa saja yang ingin memahami dunia melalui lensa perempuan. Ia juga menjadi alat untuk membongkar mitos, menantang norma, dan membangun narasi baru.

Gambar 5. Perpustakaan RUAS
Pustaka RUAS mendorong produksi pengetahuan yang berbasis pada arsip dan pengalaman perempuan. Melalui program riset dan fellowship, RUAS membuka ruang bagi peneliti, aktivis, dan seniman untuk mengembangkan karya yang kritis dan transformatif. Beberapa hasil penelitian yang telah dikembangkan antara lain:
- Bibliografi anotasi seniman perempuan, yang memetakan karya-karya seni dari perspektif perempuan dan menghubungkannya dengan konteks sosial-politik.
- Kajian gerakan perempuan transnasional, yang menelusuri solidaritas lintas negara dan budaya dalam perjuangan perempuan.
- Historiografi Ianfu, yang sedang dikembangkan sebagai bab dalam publikasi mengenai Memori-memori kekerasan, mengangkat narasi perempuan korban kekerasan seksual dalam perang namun tidak diakui oleh negara karena sebagai aib bangsa.
- Kronologi sejarah perempuan, sebagai proyek jangka panjang yang menyusun peristiwa- peristiwa penting dalam sejarah perempuan secara tematik dan kronologis.
Setiap penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memperkuat posisi perempuan sebagai subjek pengetahuan. RUAS percaya bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek studi, tetapi juga produsen gagasan dan pemikiran-perasaaan.
Diseminasi dan Kehadiran Digital: Menyebarkan Suara, Menyambung Gerakan
RUAS juga menekankan pentingnya diversifikasi hasil. Arsip tidak hanya diolah menjadi tulisan akademik, tetapi juga menjadi bahan visual, audio, dan naratif yang bisa diakses oleh berbagai kalangan. Dengan cara ini, RUAS memperluas jangkauan dan dampak dari kerja pengarsipan. RUAS menyadari pentingnya kehadiran di ruang digital pada masa ini. Oleh karena itu, hasil-hasil kerja RUAS disebarluaskan melalui berbagai platform: Website resmi RUAS, yang menjadi pusat informasi, publikasi, dan akses arsip ( http://ruas-id.org ). Lalu ada media sosial seperti Instagram dan Facebook, yang digunakan untuk berbagi kutipan, visual arsip, dan refleksi harian. Dengan strategi ini, RUAS menjangkau berbagai lapisan masyarakat—dari akademisi hingga aktivis, dari pelajar hingga ibu rumah tangga—dan mengajak mereka untuk terlibat dalam gerakan pengarsipan perempuan.
RUAS bukan hanya lembaga arsip, tetapi juga ruang belajar kolektif. Di sini, perempuan dari berbagai latar belakang berkumpul untuk berbagi pengalaman, membaca ulang sejarah, dan merancang masa depan bersama. Melalui diskusi, lokakarya, dan program mentoring, RUAS membangun ekosistem pengetahuan yang partisipatif dan transformatif. RUAS juga aktif membangun jejaring dengan komunitas, organisasi, dan institusi lain—baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Kolaborasi ini memperkuat posisi RUAS sebagai bagian dari gerakan perempuan yang lebih luas, sekaligus memperkaya perspektif dan praktik pengarsipan. Salah satu prinsip penting dalam kerja RUAS adalah etika pengarsipan. RUAS menolak pendekatan eksploitatif yang menjadikan arsip sebagai objek kontrol. Sebaliknya, RUAS mengembangkan pendekatan yang merawat, menghormati, dan mendengarkan. Arsip bukan untuk dimiliki, tetapi untuk disambungkan—dengan komunitas, dengan sejarah, dan dengan masa depan. RUAS juga menekankan pentingnya representasi yang adil dan inklusif. Dalam setiap proses pengarsipan, RUAS mempertimbangkan aspek gender, kelas, etnisitas, dan spiritualitas. Dengan cara ini, RUAS membangun arsip yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.

Gambar 6. Diskusi dengan tim penulis sejarah Timor Leste
Mengarsip untuk Menghidupkan
RUAS adalah ruang yang menghidupkan arsip sebagai gerakan perempuan. Melalui kerja-kerja pengarsipan, riset, dan diseminasi, RUAS tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga menghidupkannya untuk masa depan. Arsip di tangan RUAS bukanlah benda mati, melainkan sumber daya hidup yang menginspirasi, menggerakkan, dan membebaskan.
RUAS mengajak kita semua—perempuan, laki-laki dan ragam gender lainnya, tua dan muda, akademisi dan aktivis— untuk membaca ulang sejarah, mendengarkan suara-suara yang lama dibungkam, dan menulis ulang masa depan dengan lebih adil dan setara. Karena mengarsip bukan hanya soal menyimpan, tetapi juga soal merawat, menyuarakan, dan menghidupkan.

Gambar 7. Kunjungan tamu dari Asia Art Archive di kantor RUAS